PERINDU SYURGA

Hati bersatu karena kerinduan pada Illahi

Di ALAM situasi yang serbaenak saat ini,
terutama karena negara mengalami delegitimasi
Setelah dibukanya kran reformasi dan demokrasi

Rakyat bebas menyatakan tuntutan akan kebebasan dan hak asasi

Pascareformasi, dunia yang dulu tabu kini menjadi haru biru

Pascareformasi, demostrasi dulu diharamkan kini menjadi tren aksi

SIapapun memiliki Kebebasan untuk menyampaikan pikiran dan pendapatan yang dilindungi undang-undang

 Dalam sebuah acara partai, Presiden SBY duduk sebagai undangan dan bersanding dengan Presiden PKS, Ust. Anis Matta, Lc. Terjadilah dialog berikut:

SBY: "Dek Anis, enak ya .. sampeyan jadi Presiden mudah bangeet. Salut saya sampa partai sampeyan!"

AM: "Alhamdulilah pak Presiden. Kami diajarkan untuk tahu diri. Oh ya, saya lebih salut lagi sama partai bapak!"

1. Buku ini lahir dari catatan dan penelusuran penulis semasa mengemban amanah konstitusional sebagai salah satu Anggota Pansus Bank Century. Sebagai anggota yang turut terlibat aktif dalam sebuah momentum yang banyak kalangan dianggap sebagai “keributan” nasional, yang disajikan hampir setiap hari selama kurang lebih 3 (tiga) bulan penuh di berbagai media cetak dan elektronik nasional 

2. Sulit untuk diterima, jika kasus yang telah menyita perhatian publik ini, tidak dipertanggungjawabkan, apalagi dilupakan. Paling tidak, kita menentukan arah sejauh mana arah kasus yang merugikan negara triliunan rupiah tersebut berujung. Kasus Bank Century telah diawali dari sebuah proses politik konstitusional, karena itu pula ia harus diakhiri dengan proses yang juga konstitusional.


1. Seperti janji saya, saya coba share tentang KPK. Bagian ini berjudul: PROTEKSI ATAU MATI.

2. Sekedar memberi catatan bahwa KPK yg super body harusnya mendapat pengawasan yg lebih kuat.

3. Sayangnya, Humas/PR KPK telah menciptakan rantai pengaman tapi tak ada rantai pengawasan.

4. Bukan saja itu, PR KPK tak segan melakukan serangan bahwa pengritik adalah “corruptor fight back, pelemahan, dll”.















Cuma share aja yaa...moga-moga masyarakat sadar kalau Kompas juga makin keblinger..

Pada halaman 2 harian Kompas edisi cetak 2 April 2013, ada sebuah tabel bertitel "RANGKAP JABATAN TOKOH PARPOL". Dicantumkanlah nama presiden dan sejumlah menteri beserta jabatannya di partai politik. Semua terlihat wajar. Tapi ada yang lucu bin menggelikan. Pada kolom PKS, tercantum tiga nama serta jabatannya:

Jakarta - Badan Kehormatan DPR mengusulkan anggota DPR yang membolos rapat 4 kali berturut-turut dipecat. Usulan tersebut sudah masuk ke Baleg DPR, FPKS DPR pun memberikan persetujuan.

"Secara prinsip kami setuju untuk adanya disiplin yang lebih baik untuk anggota DPR dan BK memang diberikan kewenangan untuk hal itu," kata Ketua FPKS DPR Hidayat Nurwahid, saat berbincang, Kamis (4/4/2013).

Usulan tersebut disampaikan BK ke Badan Legislasi (Baleg) dalam rangkaian revisi UU Nomor 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (MD3). Usulan ini positif untuk membenahi kinerja para wakil rakyat.

Mahkamah Konstitusi (MK) telah menggelar sidang putusan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Jawa Barat, Senin (1/4/2013). Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masduki mengajukan gugatan ke MK karena menolak menerima hasil penghitungan rekapitulasi penghitungan suara Pilgub Jawa Barat.

Keputusan MK :

Nomor Perkara: 20/PHPU.D-XI/2013

Pokok Perkara : Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013

Pemohon : Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masduki (Nomor Urut 5) 

Kuasa Pemohon : Arteria Dahlan, S.T., S.H., dkk

Amar Putusan : Ditolak Seluruhnya

Diberdayakan oleh Blogger.

Perindu Syurga

Perindu Syurga
Cinta Kerja Harmoni

About Me

Followers

Pageviews

Hikmah Hari Ini

“Saya bersama kalian, saya berada diantara kalian, untuk memegang teguh syari’at Undang-undang. Kita mencintai Rab Kita melebihi tanah air kita, dan kita berbuat adil, adil dengan apa yang kita katakan. Kami menginginkan kemerdekaan dan keadilan untuk anak anak kita.” (Muhammad Mursi).