PERINDU SYURGA

Hati bersatu karena kerinduan pada Illahi

Pesan Ulama Saudi kepada IM:

“Akhi, janganlah berputus asa dan jangan gentar..."
Senin, 12 Agustus 2013

Ulama hadits dari Arab Saudi, Syaikh Sulaiman bin Nashir Al-‘Ulwan menegaskan, peristiwa yang terjadi sekarang di Mesir adalah perang antara Islam dan kufur, bukan dua buah komunitas yang berbeda.

“Saya merenungi peristiwa yang terjadi di Mesir. Setelah itu saya yakin, nama itu perang antara Islam dan kekufuran. Bukan antara satu jamaah dengan jamaah lain,” tutur ulama yang beberapa waktu lalu dibebaskan dari penjara Arab Saudi, seperti dikutip Islam Memo, 3 Agustus 2013.

Murid Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin itu menjelaskan, kesenangan yang diekspresikan oleh media atas apa yang menimpa Muslimin berupa pembantaian, tekanan dan menjejalkan mereka ke dalam penjara adalah bentuk kemunafikan.



Sebagaimana yang dijelaskan oleh ulama yang disegani di kalangan mujahidin itu, beliau mengatakan bahwa jamah Ikhwanul Muslimin itu bukan jamaah yang terhindar dari kesalahan. Bahkan mereka pernah terjatuh dalam kesalahan. Akan tetapi sekarang mereka menghadapi kemunafikan dan sekulerisme.

“Demi Allah, mereka (Ikhwanul Muslimin) lebih saya cintai dari mereka semua (munafikin dan kaum sekuleris), “tutur Syaikh Al Ulwan.

Beliau menegaskan agar tidak bersama dengan barisan Yahudi, Nasrani, Koptik, preman, pengikut El-Baradei, orang-orang yang tidak bermoral dan pecinta dunia meskipun hanya sepenggal kata mendukung mereka.

Syaikh Al-‘Ulwan memberi nasehat kepada Ikhwanul Muslimin, “Akhi, janganlah berputus asa dan jangan gentar. Masih ada lagi episode selanjutnya. Jika kita rugi dalam satu putaran, maka perang belum berakhir. Karena pertarungan masih panjang,” tutur Syaikh.

Beliau mengingkari orang yang mengira bahwa yang mebela Ikhwanul Muslimin disebut
sebagai Ikhwani, karena Muslimin dalam satu medan. Medan pertmpuran antara Al-Masyru’ Al Islam (proyek Islam) dan Al Masyru’ Al Ifsadi (proyek kerusakan).

[Syaikh Sulaiman bin Nasir Al-Ulwan]


========================================================================
Memang benar-benar koplak otaknya orang-orang jamiyyah dan madakhilah. Jumhur ulama di seluruh dunia memberikan pandangan yang positif kepada Islamiyyun dalam kasus di Mesir. Mereka menunjukkan ta'aathuf (simpati) dan 'azaa` (belasungkawa) atas mu'aanat (kesulitan) serta kaaritsah (bencana) yang menimpa kaum muslimin sementara mereka justru menyalahkan, menunjukkan kesokpinteran, dan merasa dalam kebenaran padahal hakikatnya dalam kebathilan. Allaahul musta'aan.

Pandangan positif tidak berarti Islamiyyun termasuk di dalamnya Al-Ikhwaan Al-Muslimiin tidak memiliki kesalahan. Mereka punya kesalahan-kesalahan sebagaimana yang lain juga punya kesalahan-keslahan. Dan kami mengetahui hal tsb. Tetapi, orang yang berakal dapat menimbang antara kebaikan yang banyak dengan kesalahan yang sedikit sehingga mereka menempatkannya secara proporsional. Sebagaimana sabda nabi shallallaahu 'alaihi wasallam: "Apabila air sebanyak dua qullah maka tidak mengandung najis."

Kalau mereka menolak dukungan dan penyikapan positif ulama-ulama Islam di seluruh dunia sebagai ijma maka setidaknya hal itu adalah qaul dan mauqif jumhur ulama dan umatnya kecuali orang-orang koplak yang tidak perlu dianggap sebab mereka laisuu bi syai-`in. Dan qaul jumhur adalah salah satu bentuk tarjih yang membenarkan qaul dan mauqif mereka. Sedang yang menyalahinya adalah orang-orang koplak, bodoh bin tolol, jatuh dalam syudzuudz, dan tampak tahaamul serta khushuumahnya kepada Islamiyyun dan masyru' islamiy mereka. Kita berlindung kepada Allah Ta'ala dari kezhaliman, keburukan, dan kebathilan kelompok ini..

[Ustd. Ibnu Lutfie At-Tamaniy]

 

 

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Perindu Syurga

Perindu Syurga
Cinta Kerja Harmoni

About Me

Followers

Pageviews

Hikmah Hari Ini

“Saya bersama kalian, saya berada diantara kalian, untuk memegang teguh syari’at Undang-undang. Kita mencintai Rab Kita melebihi tanah air kita, dan kita berbuat adil, adil dengan apa yang kita katakan. Kami menginginkan kemerdekaan dan keadilan untuk anak anak kita.” (Muhammad Mursi).