PERINDU SYURGA

Hati bersatu karena kerinduan pada Illahi

Dulu pendiri, kini pencaci.
Dulu muasis sekarang sinis.
Dulu penggerak saat ini penggerek.
Itulah roda kehidupan. Berputar seiring dengan niat dan ketulusan. Banyak yang pernah menjadi penabur benih-benih keluhuran, namun tak lama kemudian menjadi penebar benih-benih permusuhan. Tak sedikit muharrik yang memilih jalan munafik: kepentingan (interes) lebih didahulukan daripada misi suci yang diemban.

Berguguran di medan dakwah, hal yang lumrah dan banyak terjadi. Penyebabnya:

1. Tekanan Cobaan.

Cobaan, ujian, dan rintangan di medan dakwah merupakan sunnatullah yang inheren dengan dakwah dan da'i itu sendiri. Banyak da'i-da'i kesohor yang terkapar di medan dakwah, karena tak tahan menghadapi pelbagai cobaan berupa tekanan: mulai tekanan fisik, pesak (ekonomi), hingga pasek (sex). Al-Qur'an sejak lama menegaskan hal ini. ALlah berfirman:
ألم أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا
وهم لا يفتنون ولقد فتنا الذين من قبلهم فليعلمن الله الذين صدقوا وليعلمن الكاذبين }
وقال { ولنبلونكم حتى نعلم المجاهدين منكم والصابرين ونبلوا أخباركم } .

{ ومن الناس من يقول آمنا بالله فإذا أوذى في الله جعل فتنة الناس كعذاب الله ولئن جاء نصر من ربك ليقولن إنا كنا معكم أوليس الله بأعلم بما في صدور العالمين وليعلمن الله الذين آمنوا وليعلمن المنافقين ...} .

{ لتبلون في أموالكم وأنفسكم ولتسمعن من الذين أوتوا الكتاب من قبلهم ومن الذين أشركوا أذى كثيراً وإن تصبروا

2. Syahwat Kesuksesan.
Berada di ladang dakwah, merupakan hal terindah. Namun ladang dakwah dapat menjebak siapapun dan memalingkan dari misi suci. Dengan jumlah jamaah yang banyak. Keadaan jamaah yang taat, ikhlas, siap berkorban tentu akan memberi peluang ekonomi dan pengaruh yang besar. Jika salah-salah niat, maka dukungan total jamaah ini akan menjadi bumerang.
Banyak juru dakwah yang memiliki komitmen kuat saat di awal-awal merintis dakwah. Namun seiring perjalanan waktu, dan pintu kesuksesan terbuka, sang penjuru dakwah terlena dan lupa misi dakwahnya.

Terlebih juru dakwah yang bersentuhan dengan kekuasaan. Ladang-ladang dakwah menjadi ladang materi. Di saat itu, misi dakwah benar-benar diuji. Nampaknya keshalihan ritual yang selama ini terbangun, diuji apakah memiliki daya tahan atau tidak terhadap godaan limpahan materi dan wewenang.

3. Rebutan pengaruh.
Berada di medan dakwah jika salah niat, akan berujung pada merebut pengaruh jamaah yang jumlahnya jutaan. Dengan jumlah pendukung sebanyak itu, apapun keinginan akan terlaksana. Ini yang membuat tak sedikit para da'i yang lupa diri. Ingin absolut segala-galanya. Tak mau membuka diri walau untuk sekedari dinasihati atau diingatkan.

Pepatah mengatakan, "Al-'Aaqil idzaa akhtaa yataassaf, wal-ahmaq idzaa akhtha yatafalsaf" (Orang berakal jika salah, ia langsung minta maaf. Tapi orang rakus jika salah senantiasa berapologi).

Mari bersihkan hati, agar kita tidak termasuk yang berguguran di medan dakwah. Karena yang menjadi korban dari keserakahan dan kerakusan kita adalah umat dan aset-aset dakwah. 
[Ustd.Nandang Burhanudin]
 

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Perindu Syurga

Perindu Syurga
Cinta Kerja Harmoni

Arsip Tulisan

About Me

Followers

Pageviews

Hikmah Hari Ini

“Saya bersama kalian, saya berada diantara kalian, untuk memegang teguh syari’at Undang-undang. Kita mencintai Rab Kita melebihi tanah air kita, dan kita berbuat adil, adil dengan apa yang kita katakan. Kami menginginkan kemerdekaan dan keadilan untuk anak anak kita.” (Muhammad Mursi).