PERINDU SYURGA

Hati bersatu karena kerinduan pada Illahi

Saat Moursi diputuskan menjadi pemenang, kaum sekuler-liberal-muslim ambigu KALAP. Demonstrasi anarkis tak pernah padam. Rakyat dihasut. Kelompok teror Black Blok digerakkan. Media sepakat menebar fitnah: Moursi adalah penjahat. Isu sektarian dan SARA digencarkan. Tindakan penghancuran terhadap kantor-kantor IM-Salafy dan partainya FJP-An-Nur terjadi dimana-mana. Bahkan istana kepresidenan dikepung. Masjid-masjid markaz dakwah IM-Salafy dilempari bom molotov. Mesir mencekam.

Gagal dengan anarkisme, pihak-pihak yang menamakan diri Gerakan Kebangkitan (yang oleh masyarakat dianggap sebagai gerakan Penghancuran), menempuh strategi: memecah kesatuan IM-Salafy. Namun mereka bergeming. Bahkan di saat Jubir Salafy DR. Nadi Bakkar dilarang khutbah di salah satu masjid di Muqattham oleh orang yang mengatasnamakan dari kementrian agama dan wakaf, jubir Salafy dipersilahkan berkhutbah Jum'at di salah satu masjid IM.



Yang pasti, Kader-kader muda IM dan Salafy di Mesir tidak tergiring dalam jebakan-jebakan batman yang ditebar kaum liberal-sekuler-dan muslim ambigu. Karena mereka sadar, ada the common enemy yang lebih wajib dihadapi yaitu: kebodohan umat terhadap dakwah yang masih dianggap belum menyentuh hajat mereka.

Oleh karena itu, berbagai kampanye dan aksi nyata dilakukan. Di antaranya:
1. Gerakan Ma'an nabni Mashr. (Bersama membangun Mesir). Mereka sukarela mengaspal jalan-jalan, gorong-gorong, irigasi, dan menata taman-taman.

2. Gerakan Ma'an nunadzhif Mashr (bersama membersihkan Mesir). Pemuda-pemuda IM sibuk membersihkan jalan-jalan dan lingkungan serta tempat-tempat sampah. Puluhan ton sampah dibersihkan. Gayung bersambut, kementrian perumahan akan membebaskan wilayah-wilayah bersampah dan membangunnya dengan flat-flat untuk kaum tak mampu.

3. Gerakan Ma'an Naj'al Mashr Khudhraa (bersama menghijaukan Mesir). Dengan gesit, seluruh elemen IM-Salafy bahu membahu melakukan penanaman 1 juta pohon. Dana tidak mengandalkan dari pemerintah, namun semua elemen turun tangan: ada yang menyumbangkan uang, pohon, atau snak untuk kerja bakti.

Sahabat, walau IM-MOursi-Salafy tidak ada kaitannya dengan kemenangan AHER-DEMIZ di Pilgub Jabar. Namun aroma penentangan makin terasa. Mulai dari penggembosan oleh gerakan Golput, black campaign, hingga tuntutan-tuntutan yang akan diminta atas janji-janji pasangan AHER-DEMIZ.

Maka, ada baiknya kita belajar kepada para pemuda IM-Salafy. Terus bergerak menebar manfaat. Bahu membahu memberikan pelayanan terbaik. Karena kondisi Mesir dan Indonesia terutama Jabar, tidak jauh berbeda: berhadapan dengan masyarakat yang rindu kepada sosok-sosok pemimpin dari level RT-hingga negara yang mampu mengangkat derajat masyarakat ke level terhormat.

Sangat baik jika kader-kader PKS, menjadi motor penggerak dari pembangunan di Jabar. Mulai dari yang mampu dirasakan:
1. Penghijauan.
2. Kebersihan.
3. Membangun peradaban dengan memperbaiki saluran irigasi, jalan-jalan sempit, dll.

Insya Allah, keindahan Islam akan dirasakan tidak hanya di spanduk atau jargon-jargon yang sekedar ilusi hampa. Saya mengharapkan, AHER-DEMIZ mampu menjadi instrumen pembeda dari pemimpin-pemimpin lainnya. Menyambut kemenangan bukan dengan syukuran, karena pada hakikatnya ia adalah amanat. Tapi menyambut kemenangan dengan langkah-langkah konstruktif. Mari kita pacu adrenalin dakwah kita untuk terus maju, pihak-pihak yang kritis kita terima dengan terbuka. Jika ada penebar fitnah, biarkan gonggongannya terdengar nyaring, suatu ketika kita penebar fitnah pun akan merasakan sumbangsih nyata yang dilakukan. [Ustd. Nandang Burhanudin]




0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Perindu Syurga

Perindu Syurga
Cinta Kerja Harmoni

Arsip Tulisan

About Me

Followers

Pageviews

Hikmah Hari Ini

“Saya bersama kalian, saya berada diantara kalian, untuk memegang teguh syari’at Undang-undang. Kita mencintai Rab Kita melebihi tanah air kita, dan kita berbuat adil, adil dengan apa yang kita katakan. Kami menginginkan kemerdekaan dan keadilan untuk anak anak kita.” (Muhammad Mursi).