PERINDU SYURGA

Hati bersatu karena kerinduan pada Illahi

Mewaspadai Gerakan Islam Ala Squidward
By: Nandang Burhanudin
****

Siapa yang tak mengenal film kartun SpongeBob SquarePants. Sebuah serial film animasi yang paling populer di Nickelodeon. Ditayangkan pada tahun 1999 di Amerika Serikat dan dicipta oleh Stephen Hillenburg, seorang animator dan ahli biologi laut, dan diterbitkan oleh perusahaan beliau, United Plankton Pictures Inc.

Pagi tadi, sambil mengerjakan beberapa naskah, saya dihibur oleh Spongebob dan Squidward. Episode "Keindahan Seni", judulnya. Squidward diceritakan sangat memahami teori seni. Buku panduan dia miliki, lengkap! Tapi pemahaman tentang konsep seninya pudar disebabkan TIGA hal;



1. Tidak terlatih. 

Memiliki jiwa seni dengan mengajarkan seni, dua hal yang berbeda. Jiwa seni membutuhkan ketelatenan, kesabaran, dan tentunya terjun langsung ke lapangan. Tanpa ketiganya, teori seni apapun hanya sekedar keindahan di atas kertas teori, namun susah dijelmakan dalam karya nyata. Mungkin ini ada kaitannya dengan pekerjaan Squidword sebagai penunggu hasil. Kerja sehari-harinya sebagai kasir, larut dalam penantian dan kurang bergerak memahami pelanggan restoran tuan Krabs.

Lain halnya dengan Spongebob. Ia memiliki jiwa seni. Talenta yang kuat ia asah saat ia sibuk menjadi koki. Tengok saja gaya memasaknya. Ajiib bukan? TEngok juga model pakaiannya atau gaya menyajikan hidangan cepat sajinya? Sangat menakjubkan! Tanpa disadari talenta seninya seiring sejalan dengan pekerjaannya sebagai Chef handal.

2. Terbuka dan mau belajar dengan orang lain.
Di antara kunggulan sosok Spongbob adalah kerendahan hati. Ia bersedia menjadi peserta atau siswa saat Squidward Tentacles menjadi mentornya. Namun Squidward sebaliknya angkuh. Terbukti ketika Spongebob melukiskan keindahan seni dalam sebuah kanvas, Squidward menolaknya karena -menurutnya- karya Spongebob tidak sesuai dengan teori yang ada di BUKU dia. Bukannya mengakui hasil karya muridnya. Sebaliknya Squidward mengagung-agungkan teori miliknya. Teori yang belum terbukti ada di lapangan. Sementara karya yang berserakan bukan karya dia, tapi karya orang lain.

3. Berjiwa Besar.
Jiwa besar hanya dimiliki para pahlawan dan pemenang. Jiwa pecundang sebaliknya, kecil kendati mulutnya besar. Saya saksikan tadi pagi, bagaimana Squidward Tentacles enggan mengakui keindahan yang dihasilkan oleh Spongebob. Ia malah menghardik, menyalah-nyalahkan, dan fokus pada kesalahan Spongebob dalam cara membuat patung atau lukisan. Hal yang membuat Spongebob lari dan hopeless. Jerih payahnya dianggap sia-sia dan tak diapresiasi sama sekali.

Esok harinya, datang kolektor seni melihat hasil karya Spongebob. Ia berdecak kagum. Sembari mengatakan, "Hasil karya yang menakjubkan! Anda akan kaya! Terkenal! Apapun yang Anda inginkan terpenuhi!"

Perhatikan mental Squidward. Yang ada di benak dia adalah; "Kaya, kesohor, dan semua kebutuhannya terpenuhi" tapi ia lupa karya itu bukan karya dirinya, tapi karya Spongebob yang ia lecehkan, caci maki, dan hinakan. Tipe Squidward fokus dengan hasil, tanpa memperhatikan proses.

****

Sahabat, saat ini di Indonesia dan di negara-negara Islam, marak gerakan yang mengatasnamakan Islam dengan jargon-jargon wah, namun melihat prestasi dan karya perjuangannya tak nampak. Kendati gundukan sampah peradaban yang selama ini dicoba dihapus dalam sejarah masa lalunya.

Mentalitasnya mirip Squidward Tentacles. Bigmouth. Hobinya menyalahkan, mengkafirkan, lalu kemudian menistakan para petempur. Padahal kerjaan dirinya hanya mendengkur. Di saat ada orang lain yang berkarya, ia ragukan karya itu karena menurutnya tidak sesuai dengan buku panduan miliknya. Buku panduan yang tidak muktabar dan tidak ada di khazanah Islam.

Jadi mari kita terus waspada! Sebab kebatilan tengah berada dalam satu misi; mengalahkan kebenaran yang bergerak nyata di lapangan. Mari terus melatih diri. Berjiwa besar, dan terbuka menerima kritik asalkan konstruktif. **** 


0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Perindu Syurga

Perindu Syurga
Cinta Kerja Harmoni

About Me

Followers

Pageviews

Hikmah Hari Ini

“Saya bersama kalian, saya berada diantara kalian, untuk memegang teguh syari’at Undang-undang. Kita mencintai Rab Kita melebihi tanah air kita, dan kita berbuat adil, adil dengan apa yang kita katakan. Kami menginginkan kemerdekaan dan keadilan untuk anak anak kita.” (Muhammad Mursi).