PERINDU SYURGA

Hati bersatu karena kerinduan pada Illahi

Pembantaian Rabea di Antara Islam Sejati dan Ilusi
By: Nandang Burhanudin
*****

Tragedi pembantaian Ikhwanul Muslimin di Mesir dan pembiaran yang dilakukan saudara-saudara muslim lainnya, mengajarkan kita beberapa hal:

1. Pemahaman Islam yang dimiliki Ikhwanul Muslimin sangat universal-modern-dan holistik. Islam Din-Dunya-Daulah, tidak sekedar jargon kosong di buku-buku tipis yang penuh retoris. Karena doktrin inilah, IM dibenci.

2. Ada sebagian kalangan yang mengharamkan mencukur janggut, namun tak peduli saat ruhnya tercukur habis selamanya.

3. Ada yang teriak-teriak Thogut, namun diam berpangku tangan saat thogut membantai saudara seIslam. Dibantai saat shalat dan mempertahankan hak yang dirampas.



4. Ada yang sibuk berdebat tentang haramnya musik, namun ia tak berkutik saat suara darah tertumpah dan jenazah syuhada terjatuh rebah ke tanah.

5. Ada yang sibuk mempermasalahkan isbal, celana cangkring, namun ia tak permasalahkan masjid-masjid dipenuhi darah dan tumpahan air mata jiwa-jiwa yang tengah puasa di bulan Ramadhan.

6. Ada yang sibuk teriak-teriak syariah, namun tak terdengar suaranya saat syariah Islam dihancurkan oleh para pemabuk-pezina-artis porno.

7. Belum lama kita lihat tulisan; "Khilafah solusi dari segala kesulitan dan problematika hidup. Al-Khilafah Hallun Likulli Masyaakil. Namun tak satu nyawa pun yang mampu diselamatkan oleh khilafah yang diteriakkan."

8. Ada yang membenci dan menganggap najis Demok-e-rasi. Namun tak ada nyali mengharamkan kudeta junta militer represif yang hobi membunuh pengkritiknya.

Ramadhan, memang bulan Al-Furqan (pembeda), mana pejuang hakiki, mana yang sekedar cari sensasi.

Anda bisa komen apapun atas tulisan di atas. Namun itulah realitas yang terjadi kini! 


0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Perindu Syurga

Perindu Syurga
Cinta Kerja Harmoni

Arsip Tulisan

About Me

Followers

Pageviews

Hikmah Hari Ini

“Saya bersama kalian, saya berada diantara kalian, untuk memegang teguh syari’at Undang-undang. Kita mencintai Rab Kita melebihi tanah air kita, dan kita berbuat adil, adil dengan apa yang kita katakan. Kami menginginkan kemerdekaan dan keadilan untuk anak anak kita.” (Muhammad Mursi).