PERINDU SYURGA

Hati bersatu karena kerinduan pada Illahi

Bersikap Mumtaz Menyikapi Darin Mumtazah
By: Nandang Burhanudin
****

Beberapa hari ini, inbox FB saya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan seputar skandal LHI dengan seorang siswi SMK, Darin Mumtazah. TV One pagi tadi menyiarkan skandal ini secara berulang-ulang. Namun sumbernya, sekali lagi hanya Detik.com. TV nasional ternyata mengandalkan beritanya dari sebuah portal.

Sepeti tulisan-tulisan sebelumnya, saya semakin yakin kasus LHI adalah spytrap yang dipasang. Sekali lagi, targetnya bukan memVONIS bersalah LHI. Tapi target besarnya adalah: menegasikan apapun yang berbau Islam, terutama Islam Pergerakan dengan dua isu sentral: Gratifikasi Seks dan Terorisme. Hal pertama, untuk gerakan Islam yang seatle di parlemen dengan jumlah dukungan cukup besar. PKS adalah partai Islam terbesar, mengalahkan PPP dan diprediksi PKS masuk 3 besar di Pemilu 2014. Terlebih sikap menteri-menteri PKS yang teguh memperjuangkan independensi pangan. Bukankah Mentan menolak kuota impor sapi? Yang sekarang sang Mentan dipinggirkan perannya, ketika 3000 ton daging sapi dibuka kembali?



Hal kedua, terorisme digunakan untuk menjebak aktivis gerakan Islam non parlemen yang bersuara lantang dan NYATA memperjuangkan pemberlakuan syariat.

Alaa kulli haal, menjawab pertanyaan seputar sikap kita menghadapi isu Darin Mumtazah. Maka tulisan Ustadz Abdullah Haidir Riyadh cukup membantu kita:

Ketika saudara kita tertuduh..

1. Membela kehormatan org yg belum tentu bersalah tentu lebih baik ketimbang mencelanya. Apalagi jika selama ini dikenal sbg orang baik...

2. Mencela dan memojokkan, baik dg bhs lugas atau sindiran, terhadap saudara yg sedang dilanda tuduhan yg belum terbukti adalah indikasi 'sakitnya hati'

3. Mana yg lebih dekat dg adab Islam, membela penuduh yg blm dikenal kepribadiannya atau membela tertuduh yg blm terbukti kesalahannya tapi sdh dikenal kebaikannya?

4. Pesan Nabi Jelas: Penuduh harus mengajukan bukti, tertuduh cukup bersumpah jika mengingkari... (HR. Baihaqi)

5. Sebab kalau semua tuduhan langsung diterima, orang akan rame-rame melakukan tuduhan terhadap harta dan darah suatu kaum... (HR. Baihaqi)

6. Para ulama mengatakan: Keliru menghukumi bahwa sesorang tak bersalah, lebih baik dibanding keliru menghukumi bahwa seseorang bersalah...

7. Aneh aja.. jika mengaku aktifis Islam dan sering mengusung tema persatuan, namun ketika sesama aktifis diserbu berbagai tuduhan yg belum terbukti..

8. Alih2 membela, atau berempati dan mendoakan kebaikan.. Yg ada justru ikut2an memojokkan dg statment yg kadang lebih menyakitkan dari masyarakat awam...

9. Baik dari adab Islam, atau tinjauan moral, sama sekali tdk mengindikasikan­ ukhuwah yg selama ini menjadi salah satu yg diusungnya..

10. Ukhuwah bukan sekedar jadi judul buku atau seminar...

11. Benarlah ungkapan hikmah yg sering kita dengar... teman yang sejati dapat diketahui saat kita sedang susah...

12. Namun kita tidak perlu mengemis2 pertolongan dengan orang semacam itu. Sebab, kebenaran itu, dg sendirinya akan mendatangkan pendukung....

13. Bergembira apabila mendengar 'kesalahan' saudara sbg sebuah amunisi... lebih berbahaya dibanding kesalahan saudaranya itu sendiri..

14. Sebab yg pertama akan semakin larut dlm maksiat kebenciannya, dan yang kedua akan semakin sadar dg kesalahannya dan lebih besar harapan ==========
======

Saya sangat salut dengan sikap umat Islam, beberapa dari mereka adalah jamaah pengajian yang bukan kader PKS bukan pula simpatisan. Mereka mampu bersikap lebih bijaksana dalam memilih kata-kata dan menyikapi keadaan. Dibandingkan dengan para akitvis dakwah yang katanya mengusung syariah!


0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Perindu Syurga

Perindu Syurga
Cinta Kerja Harmoni

Arsip Tulisan

About Me

Followers

Pageviews

Hikmah Hari Ini

“Saya bersama kalian, saya berada diantara kalian, untuk memegang teguh syari’at Undang-undang. Kita mencintai Rab Kita melebihi tanah air kita, dan kita berbuat adil, adil dengan apa yang kita katakan. Kami menginginkan kemerdekaan dan keadilan untuk anak anak kita.” (Muhammad Mursi).