PERINDU SYURGA

Hati bersatu karena kerinduan pada Illahi

MEMAHAMI SIKAP KADER PKS TERHADAP QIYADAH

by Naufal Ibnu Amzani

“dasar kader taklid buta!!”
“mau aja dibodoh-bodohin sama qiyadahnya!!”
“udah nganggep qiyadah itu setara nabi ya? Suci, ga pernah salah”
“doktrinasinya kuat banget sampe segitu taklidnya sama qiyadah”

Mungkin itulah segelintir kata-kata yang sering dilontarkan kepada kader PKS oleh orang-orang yang “belum memahami” rasa cinta terhadap saudara seiman seperjuangan yang hari ini memegang amanah sebagai “qiyadah”. Mereka yang mungkin belum mengerti dan memahami makna ketaatan dan ke-tsiqah-an yang diperlukan jamaah ini dalam mengarungi tantangan-tantangan dakwah dalam kehidupan.

Hari-hari ini, tuduhan tersebut semakin kencang ketika mantan presiden PKS, ustadz Luthfi Hasan Ishaaq, di tangkap oleh KPK dalam kasus suap impor sapi yang dari ke hari makin tidak jelas kebenaran kasusnya. Ketika kader-kader PKS berusaha “membela” saudara seimannya tersebut yang belum benar-benar terbukti bersalah, maka tuduhan-tuduhan diatas pasti langsung teralamatkan kepada kader-kader PKS. Ironisnya, banyak juga tuduhan-tuduhan tersebut berasal dari mereka-mereka yang sama-sama berjuang dalam dakwah Islam ini, meskipun beda “jalan perjuangan” ataupun mereka yang “pernah membersamai jamaah ini”.

Sebenarnya, adalah suatu respon yang wajar ketika seseorang membela orang yang dicintai yang tiba-tiba dituduh dengan tuduhan yang belum terbukti, apalagi ketika mereka mengenal orang tersebut dalam kesehariannya, seperti halnya kader PKS mengenal ustadz LHI. Dan respon ini pun umum juga dilakukan oleh mereka yang menuduh sama ketika orang yang dicintainya dituduh semena-mena.

Padahal harusnya kita sebagai muslim sadar, apalagi aktivis-aktivis dakwah, bahwa menuduh seseorang melakukan sebuah kemaksiatan dalam Islam adalah suatu perkara yang berat. Harus menghadirkan saksi-saksi yang menguatkan dan terpercaya kejujurannya serta bukti-bukti yang menguatkan. Bahkan seorang Ali bin Abi Thalib pun pernah kalah oleh seorang yahudi dalam persidangan memperebutkan baju besi karena tidak punya bukti dan saksi yang kuat. Lalu kemana akhlaq seorang muslim yang harusnya dimiliki melihat saudaranya sedang “diuji”? bukankah lebih baik husnudzon daripada caci maki dengan opini yang sebenarnya belum terbukti?

Tidak, tidak ada satupun kader PKS yang menganggap qiyadahnya adalah seorang nabi, yang kata-katanya selalu benar. Tidak, tidak seperti itu. Saya pribadi yang “hanya” simpatisan sering berseberangan opini dengan opini qiyadah. Kader PKS justru menganggap bahwa qiyadah pun juga bisa salah. Tapi kader-kader tersebut menolak justifikasi opini publik sebelum ada keputusan bersalah. Jika bersalah? Hukum!! Hukum seberat-beratnya.

Cuma justru kadang saya berpikir, justru mereka yang menuduh dan mencaci makilah yang kadang menganggap kader-kader PKS harus seperti nabi, harus tidak pernah salah, dan tidak mewajarkan jika kader PKS pun juga bisa salah. Jika salah sedikit saja maka caci maki hampir pasti mampir ke telinga para kader

Jikalau benar-benar bersalah, Apakah mereka lupa bahwa dalam Islam pun ada mekanisme taubat? Apakah kesalahan pribadi menjadi kesalahan jamaah? Rasulullah pun pernah menegur sahabat yang mencaci maki seorang perempuan yang berzina dan kemudian meminta dirajam, “bisa jadi dia yang kalian caci maki itu lebih mulia derajatnya di sisi Allah daripada kalian”.

Tulisan ini pun juga sebagai otokritik untuk kader PKS yang kadang seringpula melakukan hal yang sama terhadap “yang tidak sepaham” dengan kita. Kalo saya ngikutin gayanya kang @hafidz_ary ”yang logis dan rasional ajalah, jangan fanatic”

Terakhir, saya ingin menutup dengan kalimat “qiyadah kami memang bukan malaikat ataupun nabi, punya kemungkinan untuk salah, tapi juga bukan fir’aun ataupun iblis yang kesalahannya tak terampuni”, sekian.
 

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Perindu Syurga

Perindu Syurga
Cinta Kerja Harmoni

Arsip Tulisan

About Me

Followers

Pageviews

Hikmah Hari Ini

“Saya bersama kalian, saya berada diantara kalian, untuk memegang teguh syari’at Undang-undang. Kita mencintai Rab Kita melebihi tanah air kita, dan kita berbuat adil, adil dengan apa yang kita katakan. Kami menginginkan kemerdekaan dan keadilan untuk anak anak kita.” (Muhammad Mursi).