PERINDU SYURGA

Hati bersatu karena kerinduan pada Illahi

PKS Teriris Kesendirian
By: Nandang Burhanudin
***

PKS ...
Menyendiri di tengah hiruk pikuk media
Yang mengaburkan dusta menjadi fakta
Semua bicara seakan dirimu berlumur dosa
"Jangan cengeng ... Jangan sok menderita"
"Jangan cemen ... Jangan sok merana"
"Toch dirimu diam saat menikmati kuasa"



PKS ...
Menyendiri dalam akumulasi geram
Menafikan kebaikan yang sejak lama tertanam
Semua menuduh bahwa dirimu sama-sama tenggelam
Larut tershibghoh oleh Ahmad Fathanah manusia hitam
Manusia antah berantah yang membingungkan kaum awam
Mencoreng muka dan dari belakang ia menikam

PKS ...
Diserang .. dihujat .. diterkam makhluk berbisa
Mereka yang membela dianggap fanatik buta
Bintang yang iba dituduh menebar fatamorgana
Bulan yang simpatik termenung dianggap gerhana
Matahari yang ceria dianggap renta
"Dasar munafik ... kelompok penjual agama"

PKS ...
Momentum kesendirian saatnya mawas diri
Menyendiri bagai terlahir kembali
Di tengah warna gulita, diantara malam yg mati
Memang jiwa jauh melayang seakan di titik kulminasi
Batin tergores ter-iris menyayat nurani
Tercabik-cabik nista yang penuh misteri

PKS ...
Kini saatnya tuk muhasabah agar tampil lebih elegan
Bahwa ada pelanggaran para pemangku jabatan
Bahwa ada kekhilafan memikul amanah kader-kader militan
Bahwa ada keterlenaan memperjuangkan harapan
Bahwa ada bercak-bercak hitam dalam kebijakan
Sadari ... karena PKS memang bukan malaikat apalagi Tuhan

PKS ...
Ke depan ... dirimu tak akan lagi dianggap angin lalu
Rintihmu karena CINTAmu pada rakyat yang makin hari makin pilu
Sakitmu karena KERJAmu untuk Indonesia maju
Renta keriputmu karena HARMONI tuk sebongkah Firdaus yang telah lama sekedar semu
Ke depan ... engkau akan tahu, bahwa anjing menggongong kafilah akan terus berlalu 


0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Perindu Syurga

Perindu Syurga
Cinta Kerja Harmoni

Arsip Tulisan

About Me

Followers

Pageviews

Hikmah Hari Ini

“Saya bersama kalian, saya berada diantara kalian, untuk memegang teguh syari’at Undang-undang. Kita mencintai Rab Kita melebihi tanah air kita, dan kita berbuat adil, adil dengan apa yang kita katakan. Kami menginginkan kemerdekaan dan keadilan untuk anak anak kita.” (Muhammad Mursi).