PERINDU SYURGA

Hati bersatu karena kerinduan pada Illahi

Ketua Humas PKS Lampung Detti Febrina mengatakan, soal tuduhan pelecehan seksual adalah hal  yang tak main-main. Ia mengutarakan, pelecehan seksual mengindikasikan kesengajaan pelaku untuk melakukan tindakan tersebut.

"Jika pandu PKS yang dimaksud memang terbukti benar melakukan tuduhan tersebut, tentu pimpinan PKS tidak segan-segan akan menjatuhkan sangsi setimpal," ujar Detti, Senin (7/1/2013).

Namun PKS menyatakan menyimpan rekaman video dari dua angle berbeda yang terbukti sama sekali tidak menunjukkan adanya kesengajaan pihak pengamanan Presiden PKS (kepanduan) menyentuh atau mendorong bagian depan wartawati Dina.

Detti menuturkan, Pemred Radar Lampung Ary Mistanto menyaksikan dan menyepakati tidak ada satupun aktivitas yang bisa disebut sebagai pelecehan seksual yang terjadi.



"Yang ada adalah Dina ingin memotret pemakaian selempang tapis Presiden PKS namun pada saat yang sama menghalangi KH Abdul Hakim yang akan memasuki tempat prosesi. Tampak rekan kepanduan mengulurkan tangan untuk menuntun Ust Hakim masuk dan rekaman video juga menunjukkan Pandu ybs mengucapkan "Permisi"," terang Detti.

Menurutnya, jika situasi padat manusia seperti itu nir sentuhan mungkin mustahil. Tapi menyebut tindakan sesuai protap yang dijalankan rekan kepanduan tersebut dengan diksi: pelecehan seksual, Detti menilai agak terlalu berlebihan.

Menurut dia, ekspresi mungkin bisa salah tangkap. Tapi video menunjukkan tidak tampak ada sesuatu yang salah yang telah terjadi jika dilihat dari ekspresi Dina. "Apakah terkejut atau berteriak atau protes jika memang benar telah terjadi pelecehan seksual," ungkap Detti.

"Maka dengan segala kerendahan hati dan itikad baik, kami minta ketulusan  Dina untuk mencabut publikasi via apapun yang telah menyatakan bahwa  mengalami pelecehan seksual pada acara Safari Dakwah PKS tersebut.

Detti menuturkan, Dina juga telah menyampaikan keberatan atas kejadian itu pada konferensi pers di lokasi acara dan mengawalinya dengan:  "PKS sbg partai yang tidak lagi menghormati wanita." Disampaikan di hadapan publik via mikrofon sebagai pertanyaan - atau pernyataan pada Presiden PKS.

Pada saat itu juga Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq telah menyampaikan permohonan maaf serta berjanji untuk memperbaiki sistem pengamanan jika dianggap terlalu ketat bagi insan pers.

Detti mengutarakan, sebagai wartawati yang dianggap mitra, di hadapan rekan-rekan pers lainnya Dina, lanjutnya, menerima permohonan maaf PKS. Detti menganggap Dina bahkan bisa bersendagurau, tertawa dan clear: no hurt feeling.

"Maka menjadi sangat mengejutkan tatkala kemudian muncul soal brodkes curhat Dina," imbuhnya.  Soal pengamanan yang dianggap terlalu ketat, PKS terus jadikan ini pelajaran karena protap teman-teman kepanduan PKS soal pengamanan VIP yang jauh lebih madani sebenarnya telah lama diberlakukan.

Detti mengatakan, dari tampilannya saja Pandu Keadilan tak ingin terjebak jadi paramiliter sipil. "Tak ada seragam loreng karena yang dihidupkan adalah prinsip PANDU, bukan sayap paramiliter. Seragamnya 'hanya' kaos berkerah," tuturnya.

Detti mengutarakan,  selalu jadikan input soal standar pengamanan ini - khususnya dari rekan-rekan pers - sebagai bahan memperbarui model pengamanan Pandu Keadilan. [tribunnews]




0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Perindu Syurga

Perindu Syurga
Cinta Kerja Harmoni

Arsip Tulisan

About Me

Followers

Pageviews

Hikmah Hari Ini

“Saya bersama kalian, saya berada diantara kalian, untuk memegang teguh syari’at Undang-undang. Kita mencintai Rab Kita melebihi tanah air kita, dan kita berbuat adil, adil dengan apa yang kita katakan. Kami menginginkan kemerdekaan dan keadilan untuk anak anak kita.” (Muhammad Mursi).