PERINDU SYURGA

Hati bersatu karena kerinduan pada Illahi

Membangun KHILAFAH SEJATI, bukan ILUSI
By: Nandang Burhanudin
***
Tak ada yang tidak setuju dengan jayanya kembali Islam di pentas dunia. Mereka yang menolak, hanyalah orang-orang yang hatinya buta karena enggan menerima siraman hidayah.

Kejayaan Islam dan umat Islam ('Izzul Islam wal Muslimin) sejak lama menjadi cita-cita seluruh ormas Islam-gerakan Islam-hingga organisasi milik pemerintah di belahan dunia Islam. Termasuk ormas-ormas di Indonesia, mulai dari SI, Muhammadiyah, Persis, NU, hingga PERTI, PUI, atau FPI sekalipunn.

Yang menjadi masalah adalah fokus perjuangan masing-masing berbeda. Ada yang mulai dari manajemen hati, manajemen diri, perbaikan keluarga, perbaikan pemerintah, hingga penguasaan dunia. Ada yang memahami dari sisi ekonomi dan pendidikan. Ada yang dari akidah. Ada pula dari Fiqh Ibadah. Bayangkan bila semua bersinergi. Akan semakin menambah harmoni dari nada-nada perjuangan.



Namun, umat dibingungkan dengan aksi segelintir elemen yang menafikan dan menganggap nisbi semua perjuangan selain elemen dirinya. Seakan 'izzul Islam wal Muslimin hanya bisa dilakukan oleh dirinya dan organisasinya, tidak oleh yang lain. Muncullah klaim-klaim ghuluww dan tafrith. Hingga menjurus pada PENGKAFIRAN pihak lain yang beda fokus perjuangan.

Ketika Islam dan umatnya jaya, kejayaan Islam tidak datang simsalabim atau hanya mengandalkan bantuan dari pihak luar. Contoh saja, Khalid bin Walid menulis surat kepada Kisra, "Masuk Islam atau menyerah! Jika tidak memilih satu di antara pilihan di atas, kami akan mengirimkan balatentara yang sangat merindukan kematian seperti kalian merindukan kehidupan."


Ketika Kisra membaca surat tersebut, ia berkirim surat kepada Raja China untuk membackup pasukan tempur. Namun Raja China berkata, "Wahai Kisra, aku tak memiliki cara mengalahkan kaum yang seandainya mereka MAU mencabut gunung, niscaya mereka akan mencabutnya."

Jiwa-jiwa yang rindu kematian inilah yang mengguncang dunia. Bahkan saat Khilafah Utsmaniyah kokoh berdiri dan dipimpin oleh masyarakat yang cinta mati, Eropa kalang kabut. Bahkan dikisahkan, saat kapal-kapal berbendera Utsmani hilir mudik melintasi jalur-jalur laut Eropa. Ketika kapal-kapal ini lewat, gereja-gereja di Eropa tidak berani membunyikan lonceng gereja, karena khawatir menggangu kaum muslimin yang ada kapal. Hal yang senantiasa mendorong pasukan muslim menguasainya.

***
Sungguh izzah tiada tara tiada banding.
Poinnya adalah: 'Izzah Islam dilahirkan bukan oleh pengecut dan bukan oleh generasi yang masih mencintai hidup. Apalagi hanya menyuruh orang lain berjuang. Justru yang meminta tolong adalah kaum yang lemah.


0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Perindu Syurga

Perindu Syurga
Cinta Kerja Harmoni

Arsip Tulisan

About Me

Followers

Pageviews

Hikmah Hari Ini

“Saya bersama kalian, saya berada diantara kalian, untuk memegang teguh syari’at Undang-undang. Kita mencintai Rab Kita melebihi tanah air kita, dan kita berbuat adil, adil dengan apa yang kita katakan. Kami menginginkan kemerdekaan dan keadilan untuk anak anak kita.” (Muhammad Mursi).